🐋 Hari Orang Sakit Sedunia 2018
MEMPERHATIKANYANG MENDERITA Hari Minggu Biasa VI (11 Februari 2018) Hari Orang Sakit Sedunia Im 13:1-2,44-46; 1Kor ; Mrk 1:40-45 BACAAN hari ini berbicara tentang penyakit kusta. Apa arti penyakit kusta pada zaman Yesus? Hal itu menjadi jelas kalau memperhatikan yang dikatakan dalam Perjanjian Lama. Sampai saat ini pun penyakit ini masih ada.
Liputan6com, Jakarta Peringatan Hari ASI Sedunia, tepatnya Pekan Menyusui Sedunia (World Breastfeeding Week) yang jatuh setiap 1 - 7 Agustus mengingatkan, pentingnya menyusui untuk anak.Menyusui dapat mencegah anak kekurangan gizi (malnutrisi), termasuk wasting-- kondisi ketika seorang anak memiliki berat badan rendah sehubungan dengan tinggi badannya.
EkaristiMINGGU BIASA VI/B, 11 Februari 2018 (HARI ORANG SAKIT SEDUNIA KE-26 2018) 1. Berbahagialah orang yang pelanggarannya diampuni, dan dosa-dosanya ditutupi. Berbahagialah manusia, yang kesalahannya 2. Dosa-dosaku kuungkapkan kepada-Mu dan kesalahanku tidaklah kusembunyikan; aku berkata,
NpaPG. Sejarah peringatan Hari Orang Sakit Sedunia HOSS ditetapkan oleh Paus Yohanes Paulus II pada 13 Mei 1992, dan mulai dirayakan pada 11 Februari 1993. Bapa Suci menetapkan Hari Orang Sakit Sedunia HOSS hanya setahun setelah Beliau sendiri didiagnosa menderita penyakit parkinson awal 1991. Hari itu dibaktikan khusus sebagai “hari khusus untuk doa dan berbagi, untuk mempersembahkan penderitaan 11 Februari adalah hari Pesta Bunda Maria dari Lourdes dan hari ini dipilih menjadi HOSS karena banyak peziarah dan pengunjung ke Lourdes yang telah disembuhkan melalui doa-doa Bunda Perawan. Dalam setiap peristiwa hidup yang kita alami hendaknya kita selalu mengikutsertakan Bunda Maria terlebih dalam penderitaan karena sakit, kita semua berharap Bunda dapat menolong dalam permohonan akan alasan Bapa Suci Yohanes Paulus II dalam menetapkan HOSS nampak dari ketiga tema yang terus-menerus didengungkan setiap tahun, yaitu Mengingatkan umat beriman untuk berdoa secara khusuk dan tulus untuk mereka yang sakitMengundang semua orang Kristiani untuk merefleksikan dan menanggapi penderitaan manusiaMengakui dan menghormati semua orang yang bekerja dan melayani dalam bidang kesehatan dan sebagai pemerhati ini adalah tahun ke 28 HOSS, Paroki Pademangan mengadakan Misa peringatan HOSS pada tanggal 08 Februari 2020. Dalam homili yang disampaikan, Romo Gregorius Sasar Harapan, SVD menyampaikan tema HOSS tahun ini adalah “Datanglah kepadaKu, kamu semua yang letih lesu dan berbeban berat, dan Aku akan memberikan kelegaan kepadamu†Matius 1128. Dan disampaikan pula, pesan Paus Fransiskus agar kita semua memiliki hati seperti Orang Samaria yang baik hati terlebih mereka yang bekerja di bidang medis, menolong dan merawat orang-orang sakit dengan hati yang tulus. Dijelaskan juga, bahwa Yesus sendiri pernah mengalami penderitaan Ia mampu merasakan dan sungguh-sungguh menjalani penderitaan itu dengan penuh sukacita karena Bapa selalu memberikan penghiburan kepada Nya. Hanya orang yang pernah mengalami penderitaan yang mampu menghibur orang lain. Yesus, mengajak kita semua secara terus menerus agar kita lebih dekat denganNya. Karena jika kita dekat dengan Kristus,maka kita akan mampu meneladani sikap hidup Yesus, mengatasi segala penderitaan dan juga mampu menghibur mereka yang sakit dan sikap hidup kita yang senantiasa bersyukur maka kita akan semakin dekat dengan Kristus. Orang yang senantiasa bersyukur akan mengalami sukacita dan kegembiraan dalam hidup, maka bersyukurlah senantiasa. Kita bersyukur, maka kita bergembira janganlah kita bergembira baru kita pertama-tama adalah hati dan pikiran kita harus sehat, semua sakit penyakit berasal dari hati dan pikiran kita, jika kita selalu berpikir buruk maka penderitaanlah yang kita rasakan, tetapi jika kita terus menerus membiasakan diri kita untuk berpikir positif, mengutamakan doa dan rasa syukur kita kepada Allah maka sukacita dan kegembiraan senantiasa kita dalam kesempatan ini, kita berdoa bagi mereka yang sakit dan menderita juga kita berdoa bagi mereka paramedis agar mereka senantiasa sehat sehingga mereka dapat melayani dan merawat orang-orang sakit dengan baik. Santo Yakobus dalam bacaan pertama di hari ini memberikan keyakinan kepada kita semua, bahwa Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar Salfo
HARI ORANG SAKIT SEDUNIA 2018 fx. wikan indrarto* Hari Orang Sakit Sedunia World Day of the Sick ditetapkan oleh Sri Paus Yohanes Paulus II dan mulai dirayakan pada 11 Februari 1993. Tema Hari Orang Sakit Sedunia tahun 2018 ini adalah kata yang diucapkan Yesus dari atas salib kepada Maria, IbuNya, dan Yohanes; “Ibu, inilah anakmu. Inilah ibumu. Dan sejak saat itu, murid itu menerima dia di dalam rumahnya.” Yoh 19;26-27. Kata-kata Yesus itu dengan terang benderang menerangi misteri Salib, yang tidak menghadirkan keputusasaan, namun justru menunjukkan kemuliaan dan kasihNya sampai akhir. Ketiga subtema yang terus-menerus didengungkan pada Hari Orang Sakit Sedunia adalah pertama, mengingatkan semua orang beriman, untuk berdoa secara khusuk bagi mereka yang sedang sakit. Kedua, mengundang semua orang beriman untuk merefleksikan sakit dan penderitaan manusia, dan ketiga, penghargaan bagi semua petugas kesehatan. Melayani saudara kita yang sedang sakit, seharusnya diawali dengan kemurnian hati sampai kita mampu bersikap seperti Ayub “Saya mata untuk orang buta, dan kaki bagi orang lumpuh” Ayub 2915, kepada sesama yang sakit. Pelayanan kita tidaklah harus dilakukan dengan menjadi petugas kesehatan bagi para pasien. Sebenarnya kita dapat sekedar dekat dengan orang sakit, terutama yang membutuhkan perawatan lama, membantu dalam memandikan, berpakaian, mencucikan dan menyuapkan makanan. Layanan sederhana seperti ini, terutama bila dilakukan berkepanjangan, pastilah dapat menjadi sangat melelahkan dan memberatkan. Meskipun tidak ada yang menginginkannya, namun setiap manusia akan mungkin mengalami sakit, penderitaan dan bahkan dapat berlanjut dengan kematian. Sakit yang ringan sekalipun, sebaiknya digunakan sebagai sebuah momentum penting untuk mensyukuri sehat. Kita diingatkan untuk bersandar pada Tuhan, menyadari pentingnya iman bagi mereka yang sakit dan berbeban berat, untuk datang pada Tuhan. Dalam pertemuannya dengan Tuhan melalui caranya masing-masing, mereka yang sakit akan menyadari bahwa dirinya tidak sendirian. Bagi kita semua yang sehat, memberikan pendampingan, penghiburan dan perhatian untuk mereka yang sakit, sangatlah berarti. Selain itu, kita disadarkan akan pergerakan roda kehidupan. Pada saat sehat, kita seharusnya meluangkan waktu, tenaga, pikiran dan dana untuk membantu mereka yang sakit. Pada saat yang lain, sangat mungkin kita sendiri justru menjadi orang yang sakit dan memerlukan hal yang sama dari semua orang di sekitar kita, sebagaimana pergerakan dan putaran roda kehidupan. Pada era JKN Jaminan Kesehatan Nasional yang sekarang berlaku di Indonesia, kendali mutu dan kendali biaya untuk pasien yang sakit akan terus diwujudkan. Hal ini karena kebebasan profesi dokter semakin direduksi, kompleksitas masalah medis pasien semakin diabaikan, dan mutu layanan medik yang dilakukan semakin disetarakan. Untuk itu, terhadap pasien dengan sakit berat dan berbiaya mahal, para dokter pasti akan sampai pada sebuah titik terjadinya dilema medis. Pada titik itulah diperlukan perubahan dari pengobatan menjadi perawatan Advance Cures and Transform Care. Para dokter wajib membedakan sifat tindakan medis yang akan diambilnya, menjadi Ordinary’ atau Extraordinary’. Disebut ordinary kalau memenuhi 6 syarat, yaitu 3 aspek medis dan 3 aspek moral. Syarat aspek medis adalah teruji secara imiah, terbukti berhasil secara statistik, dan tersedia secara rasional. Sedangkan aspek moral adalah menguntungkan, bermanfaat, dan tidak menjadi beban finansial bagi pasien, keluarga maupun RS. Penilaian sifat tindakan medis tersebut adalah hic et nunc’, yaitu sekarang dan di RS ini. Apabila salah satu saja dari 6 syarat tersebut tidak tepenuhi, maka tindakan medis tersebut termasuk Extraordinary’, sehingga secara etika tidak wajib dilakukan oleh dokter. Ketentuan etika tersebut diperlukan untuk menghindari 3 hal, yaitu agresive medicine’ tindakan berlebihan, futile medicine’ intervensi sia-sia, dan rasa bersalah yang tidak perlu, baik bagi dokter, para petugas RS lainnya, pasien maupun keluarganya. Selain itu, perburukan kondisi medis, bahkan kematian pasien tidak boleh dianggap sebagai kegagalan dokter, asalkan kewajiban dokter sudah dilaksanakan. Momentum Hari Orang Sakit Sedunia World Day of the Sick Minggu, 11 Februari 2018, mengingatkan kita agar memiliki kebijaksanaan hati bagi para orang sakit. Selain itu, saat terjadi sakit juga tidak perlu putus asa, karena adanya kemuliaan dan kasih Tuhan sampai pada akhir kehidupan. Sudahkah kita menemani orang sakit di sekitar kita? Sekian Yogyakarta, 6 Februari 2018 * Sekretaris IDI Wilayah DIY, dokter spesialis anak, Lektor di FK UKDW Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA 081227280161,
Bunda Gereja “Ibu, inilah, anakmu… Inilah, ibumu. Dan sejak saat itu murid itu menerima dia di dalam rumahnya.” Yoh 1926-27 Saudari-saudara terkasih, Pelayanan Gereja untuk orang sakit dan mereka yang merawatnya harus terus berjalan dengan daya semangat yang senantiasa dibarui, dalam kesetiaan pada amanat Tuhan bdk. Luk 92-6; Mat 101-8; Mrk 67-13 dan mengikuti teladan Yesus, Pendiri dan Gurunya. Tema Hari Orang Sakit Sedunia tahun ini ditetapkan dari kata-kata yang diucapkan Yesus dari atas salib kepada Maria, Ibu-Nya, dan Yohanes “Ibu, inilah anakmu… Inilah ibumu. Dan sejak saat itu, murid itu menerima dia di dalam rumahnya.” Yoh 1926-27. Kata-kata Tuhan itu dengan terang benderang menerangi misteri Salib, yang tidak menghadirkan tragedi keputusasaan, namun lebih tepatnya menunjukkan kemuliaan-Nya dan kasih-Nya sampai akhir. Kasih itu menjadi dasar dan kaidah bagi komunitas Kristiani dan hidup dari setiap murid Kristus. Sebelum semua yang lain, kata-kata Yesus adalah sumber panggilan keibuan Maria bagi seluruh umat manusia. Khususnya, Maria telah menjadi Ibu dari murid-murid Puteranya, yang menjaga mereka dan perjalanan mereka sepanjang hidup. Seperti kita ketahui, perhatian ibu bagi anak-anaknya mencakup dimensi material dan spiritual. Penderitaan salib yang tak terperikan menembus jiwa Maria bdk. Luk 235, tetapi tidak melumpuhkannya. Sungguh sebaliknya. Sebagai Ibu Tuhan, suatu langkah baru pemberian diri terbuka di hadapannya. Di atas Salib, Yesus memperlihatkan perhatian-Nya bagi Gereja dan seluruh umat manusia, dan Maria dipanggil untuk berbagi perhatian yang sama. Dalam melukiskan pencurahan Roh Kudus pada hari Pentakosta, Kisah Para Rasul memperlihatkan bahwa Maria mulai melaksanakan perannya pada komunitas Gereja Perdana. Peran yang tidak pernah terhenti. Yohanes, murid yang dikasihi, adalah gambaran Gereja, umat mesianis. Dia harus mengakui Maria sebagai Ibunya. Untuk melaksanakannya, ia menerima Maria di dalam rumahnya, untuk menemukan model kemuridan di dalam diri Maria, dan untuk merenungkan panggilan keibuan yang telah Yesus percayakan kepadanya, dengan seluruh tanggung jawabnya seorang Ibu penuh kasih yang melahirkan anak-anak yang cakap mencintai seperti amanat Yesus. Itulah mengapa panggilan keibuan Maria merawat anak-anaknya dipercayakan kepada Yohanes dan Gereja secara menyeluruh. Seluruh komunitas para murid termasuk di dalam panggilan keibuan Maria. Yohanes, sebagai murid yang berbagi segala hal dengan Yesus, tahu bahwa Sang Guru ingin membawa semua orang ke dalam perjumpaan dengan Sang Bapa. Ia dapat memberikan kesaksian akan kebenaran bahwa Yesus menjumpai banyak orang menderita sakit spiritual yang disebabkan oleh kesombongan bdk. Yoh 831-39 dan sakit fisik bdk. Yoh 56. Ia melimpahkan belas kasih dan pengampunan kepada semua orang, dan menyembuhkan yang sakit sebagai tanda hidup Kerajaan Allah yang berlimpah-limpah, di mana setiap tetes air mata akan diusap. Seperti Maria, para murid dipanggil untuk saling memperhatikan, tetapi tidak hanya itu. Mereka tahu bahwa hati Yesus terbuka bagi semua orang dan tidak ada seorang pun yang dikecualikan. Injil Kerajaan Allah harus diwartakan kepada semua orang, dan cinta kasih orang-orang Kristiani harus ditujukan kepada semua orang, karena mereka adalah pribadi-pribadi, anak-anak Allah. Panggilan keibuan Gereja kepada mereka yang berkekurangan dan orang sakit telah menemukan ungkapannya yang nyata di sepanjang sejarahnya 2000 tahun dalam rangkaian prakarsa-prakarsa yang menakjubkan atas nama orang sakit. Sejarah pengabdian ini janganlah dilupakan. Prakarsa itu harus terus dilanjutkan sampai saat ini di seluruh dunia. Di negara-negara di mana sistem-sistem pemeliharaan kesehatan publik memadai, karya kongregasi-kongregasi religius Katolik dan keuskupan-keuskupan serta rumah sakit – rumah sakitnya diarahkan tidak hanya pada penyediaan kualitas perawatan medis, tetapi juga pada memperlakukan pribadi-pribadi manusia pada pusat proses penyembuhan, sambil melakukan penelitian ilmiah dengan penuh hormat bagi kehidupan dan nilai-nilai moral Kristiani. Di negara-negara di mana sistem-sistem pemeliharaan kesehatan belum cukup memadai atau bahkan belum ada, Gereja berusaha melakukan apa yang ia dapat kerjakan untuk meningkatkan kesehatan, mengatasi kematian bayi, dan memberantas mewabahnya suatu penyakit. Di mana-mana Gereja berusaha menyediakan perawatan, bahkan ketika Gereja tidak berada pada posisi memberikan kesembuhan. Gambaran Gereja sebagai sebuah “bidang rumah sakit” yang menyambut semua orang yang terluka adalah suatu realitas yang sangat nyata, karena di beberapa bagian dunia, rumah sakit – rumah sakit misi dan keuskupan adalah satu-satunya lembaga yang menyediakan perawatan penting bagi masyarakat. Kenangan akan sejarah panjang pelayanan pada orang-orang sakitmenjadi alasan bagi komunitas Kristiani untuk bersukacita, khususnya mereka yang saat ini terlibat di dalam pelayanan kesehatan ini. Namun, di atas semuanya itu, kita mesti membiarkan masa lalu itu untuk memperkaya kita. Kita seharusnya belajar dari sejarah yang mengajarkan pada kita tentang kemurahan hati, pengorbanan diri dari banyak pendiri lembaga-lembaga pelayanan orang sakit, kreativitasnya, banyaknya prakarsa yang dijalankan selama berabad-abad, dan komitmen pada penelitian ilmiah sebagai sarana menawarkan inovasi dan pengobatan bagi orang sakit yang dapat diandalkan. Warisan masa lalu ini membantu kita untuk membangun masa depan yang lebih baik, sebagai contoh, dengan melindungi rumah sakit – rumah sakit Katolik dari mentalitas bisnis yang sedang berusaha mengubah pelayanan kesehatan menjadi bisnis yang menguntungkan, yang ujung-ujungnya mengabaikan orang miskin. Organisasi yang bijaksana dan berbelas kasih menuntut bahwa orang sakit dihormati martabatnya, dan terus menerus dipandang sebagai titik pusat pada proses pengobatan. Hal inilah yang seharusnya menjadi pendekatan orang-orang Kristiani yang bekerja di dalam struktur-struktur masyarakat; melalui pelayanan mereka, mereka dipanggil memberikan kesaksian Injil yang meyakinkan. Yesus memberikan kuasa penyembuhan-Nya kepada Gereja “Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya… mereka akan meletakkan tangannya atas orang sakit, dan orang sakit itu akan sembuh” Mrk 1617-18. Di dalam Kisah Para Rasul, kita membaca kisah penyembuhan yang dilakukan oleh Petrus bdk. Kis 34-8 dan Paulus bdk. Kis 148-11. Misi Gereja adalah suatu tanggapan terhadap karunia Yesus tersebut, karena Gereja tahu bahwa ia harus membawa orang sakit ke hadapan Allah, dengan penuh kelemahlembutan dan belas kasih. Pelayanan kesehatan akan selalu menjadi tugas yang penting dan fundamental, yang harus dijalankan dengan entusiasme yang selalu dibarui, dari paroki-paroki sampai lembaga-lembaga kesehatan yang paling besar. Kita tidak dapat melupakan cinta kasih yang lembut dan kesetiaan keluarga-keluarga dalam menjaga orang sakit kronis atau anak-anak berkebutuhan khusus, serta orang tua dan sanak saudara mereka. Kepedulian yang diberikan dalam keluarga merupakan kesaksian kasih yang luar biasa bagi pribadi manusia; hal ini perlu diakui dengan sepantasnya dan didukung oleh kebijakan-kebijakan yang sesuai. Para dokter dan perawat, imam, biarawan-biarawati, relawan, keluarga dan mereka semua yang merawat orang sakit, ambil bagian dalam misi gereja ini. Misi tersebut merupakan pembagian tanggung jawab yang memperkaya nilai pelayanan yang kita berikan setiap hari. Kepada Maria, Bunda yang penuh kelembutan cinta, kita percayakan semua orang yang menderita sakit jiwa raga, semoga Bunda Maria menopang mereka dalam pengharapan. Kita memohon padanya juga untuk membantu kita menerima saudara-saudari kita yang sakit. Gereja tahu bahwa ia memerlukan rahmat khusus untuk menghidupi tugas Injili melayani orang-orang sakit. Semoga doa-doa kita kepada Maria Bunda Allah menyatukan permohonan yang tiada henti, di mana setiap anggota Gereja dapat hidup dengan penuh cinta pada panggilan untuk melayani kehidupan dan kesehatan. Semoga Perawan Maria menjadi pengantara untuk Hari Orang Sakit Sedunia ke-26. Semoga ia membantu orang-orang sakit untuk menyatukan penderitaan mereka dengan penderitaan Tuhan Yesus. Dan, semoga ia mendukung mereka semua yang merawat orang sakit. Kepada semua orang sakit, pelayan kesehatan dan relawan, saya memberikan berkat Apostolik saya. Dari Vatikan, 26 November 2017 Pada Hari Raya Kristus Tuhan kita, Raja Semesta Alam FRANCIS
hari orang sakit sedunia 2018